Tahukah Anda?

Kupas Tuntas Karakter dan Mentalitas Wanita Rusia untuk Kencan

5 menit baca freemeet
Kupas Tuntas Karakter dan Mentalitas Wanita Rusia untuk Kencan

Makin banyak cowok yang kepincut cewek bule, terutama dari Eropa Timur, demi merajut cinta di Barat. Yuk, kenali mentalitas unik wanita Rusia di freemeet!

Sekarang ini, makin banyak pria yang kepincut untuk menikah atau membangun rumah tangga dengan perempuan luar negeri, khususnya dari kawasan Eropa Timur. Mereka datang ke negeri orang demi merintis karier, menempuh pendidikan, atau sekadar menyusul kekasih hati mereka.

Lewat tulisan kali ini, kita bakal mengupas tuntas karakter serta pola pikir perempuan asal Rusia dan eks-negara pecahan Soviet seperti Ukraina, Belarus, Lituania, Latvia, Estonia, Moldova, dan sekitarnya. Cewek-cewek dari belahan bumi ini punya banyak kemiripan sifat yang menarik.

Secara pola pikir, mereka sudah sangat maju dan mandiri. Setir mobil, baik city car mungil maupun SUV bongsor, mereka libas dengan santai. Urusan gawai seperti iPhone atau iPod sudah di tangan, lengkap dengan pemahaman teknologi yang mumpuni. Mereka juga super aktif berselancar di dunia maya, nimbrung di forum-forum, aktif di media sosial, sampai Twitter.

Soal modernitas, mereka nggak kalah gaul dari kaum adam.

Singkatnya, wawasan mereka sangat update dan kekinian. Tapi di sisi lain, nilai-nilai luhur dan tradisi yang diwariskan nenek moyang mereka tetap tertanam kuat di kepala.

Di saat gelombang feminisme di berbagai belahan dunia sudah sangat radikal, perempuan Rusia justru tetap menjadi lambang keanggunan, pesona, dan kecantikan sejati yang belum terkontaminasi tren nyeleneh. Mereka cerdas, supel, dan sangat menjunjung tinggi keharmonisan keluarga—mulai dari mendambakan keturunan hingga mendedikasikan diri untuk suami tercinta.

Pendek kata, paras rupawan mereka benar-benar sejalan dengan kecantikan hatinya.

Bagi masyarakat Rusia, figur perempuan selalu lekat dengan kelembutan, cinta, dan kasih sayang yang tulus. Citra ini sudah mendarah daging selama ratusan tahun, berkat ketangguhan mereka yang terbiasa bekerja keras setara dengan laki-laki.

Dulu, saat Rusia dilanda kancah peperangan, para wanitanya harus banting tulang mengurus keluarga seorang diri lantaran suami mereka gugur di medan laga.

Perempuan Rusia sudah terkenal sebagai nyonya rumah paling dermawan di planet ini. Kalau Anda berkunjung ke rumah mereka, siap-siap saja disuguhi makanan berlimpah seolah Anda sudah puasa berbulan-bulan.

Karakteristik dan Kebiasaan Unik Perempuan Rusia

  • Faktor keamanan menempati urutan teratas bagi mereka—bahkan sedikit lebih ekstrem dibanding perempuan di negara lain. Ketakutan terbesar mereka berkisar seputar rasa kesepian, jerat kemiskinan, penyakit, hingga kecemasan tidak bisa merawat orang tua di hari tua.
  • Mereka punya standar diri yang sangat tinggi alias gemar mengkritik diri sendiri. Jangan kaget kalau tiba-tiba ia berucap, "Duh, hari ini mukaku lagi kurang oke." Kalimat itu sebenarnya bentuk "permintaan maaf" karena merasa penampilannya sedang kurang sempurna. Bukan karena kurang percaya diri, melainkan karena ia ingin mendengar validasi dari pasangannya bahwa dirinya tetap dipuja, dicintai, dan terlihat cantik di mata sang suami.
  • Mereka paling pantang meminta secara blak-blakan. "Kalau seseorang berniat memberi sesuatu pada perempuan, lakukanlah dari lubuk hati yang paling dalam, bukan karena diminta." Tapi di sisi lain, perempuan Rusia juga manusia biasa yang doyan diberi hadiah; kalau suaminya terlampau pelit dan tak pernah memberinya kejutan, siap-siap saja dicap sebagai pria medit. Catatan kecil: jika ia mulai melempar kode-kode tertentu, itu artinya ia sedang 'meminta' sesuatu secara tersirat.
  • Budaya patriarki masih sangat kental di masyarakat Rusia. Tengok saja di papan bursa kerja, kalimat lowongan semacam ini adalah hal lumrah: "Dicari: Sekretaris, Wanita, usia maksimal 25 tahun, berpenampilan menarik, tinggi minimal 175 cm."
  • Uniknya, para perempuan di sana jarang sekali yang turun ke jalan mendemo budaya machismo tersebut. Mereka kerap gagal paham dengan apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh para aktivis feminis. Pasalnya, dalam realitas sehari-hari rumah tangga mereka justru wanitanya yang memegang kendali penuh di rumah.
  • Perempuan Rusia sudah terbiasa diperlakukan dengan sangat ksatria dan galant oleh pria lokal. Saat seorang cowok membelikan minuman atau membukakan pintu, murni karena etika kesopanan, bukan ada udang di balik batu. Saking terbiasanya dihargai, mereka bakal tersinggung jika diajak patungan bayar hanya demi dalih emansipasi. Waktu saya naik kereta keliling Eropa, saya selalu berinisiatif mengangkat koper-koper berat ke rak bagasi. Di Rusia? Pria setempat tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Jangankan pacar sendiri, perempuan asing yang kesusahan pun pasti dibantu. Beda banget dengan pemandangan yang sering saya lihat di Bandara Roma—yang mustahil terjadi di Moskow—di mana ada cewek menenteng koper berat sendirian sementara cowoknya jalan santai di samping sambil tangan masuk saku celana.
  • Kaum pria di sana punya kebiasaan wajib mengangkat gelas untuk bersulang demi memuji kaum hawa di setiap acara makan malam, siang, atau pesta.
  • Jangan heran kalau Anda jarang melihat kemesraan mengumbar aurat di ruang publik. Ciuman dan pelukan hangat adalah privasi yang disimpan rapat-rapat untuk momen berdua saja. Bukan karena mereka dingin atau kaku, melainkan karena norma sosial di Rusia menganggap bermesraan di tempat umum sebagai tindakan yang tidak sopan dan tabu.
  • Mereka rela mendedikasikan waktu berjam-jam demi merawat penampilan fisik. Full makeup dan berpakaian super stylish sudah jadi menu wajib sehari-hari, bahkan sekadar untuk mampir ke supermarket. Demi tampil memukau, mereka seakan tidak kenal lelah. Usaha keras ini bukan tanpa alasan. Mengingat angka harapan hidup pria Rusia relatif pendek (sekitar 59 tahun berbanding 72 tahun untuk wanita) akibat kebiasaan minum keras, persaingan mencari pendamping hidup menjadi sangat ketat. Bagi mereka, keluarga adalah segalanya; perempuan di sana sangat ingin menikah, punya suami, dan anak. Alhasil, banyak perempuan cantik jelita yang terpaksa berkompromi dengan pria kurang menarik atau dominan yang jarang tersenyum. Demi mengamankan masa depan dengan pria yang 'normal', mereka rela berkorban apa saja.
  • Sampai detik ini, pola pikir klasik masih melekat kuat: banyak gadis Rusia percaya bahwa untuk memikat pria mapan, mereka harus tampil berbalut busana brand ternama. Tak heran jika banyak dari mereka rela ngekos di petakan sempit demi bisa menyisihkan uang demi barang-barang berlabel desainer (apalagi harga barang branded di Moskow jauh lebih mahal dibanding kota-kota Eropa lainnya).
  • Mereka jor-joran merogoh kocek untuk produk kecantikan dan rutin nyalon buat manikur tiap minggu. Tampil dengan outfit mewah buatan desainer ternama menjadi semacam tiket sosial agar lebih dihargai di lingkungan eks-Soviet. Sebagai contoh, standar penjagaan *face control* oleh satpam di klub-klub malam Moskow jauh lebih ketat dan kejam daripada tempat manapun di dunia.

Bagikan artikel ini

Apakah kamu menyukai artikel ini?